Titipan Tuhan

Anak adalah titipan Tuhan. Klise. Ini kalimat yang sepertinya memang udah baku banget alias gak bisa diganggu gugat keabsahannya. Tapi gak bisa diingkari memang ini adalah benar adanya. So mulailah aq melakukan pengamatan dan pengintaian terhadap beberapa target…. ( hehehe persis kayak detektif Conan gitu…….. ) kiara-kira apa ya yang dilakukan sebagian keciiillll kaum hawa terhadap anak-anaknya???

Nah ni hasilnya, target A sangat menginginkan anaknya jadi artis. Maka acara-acara seperti Mamamia, Idola Cilik dan AFI Junior termasuk acara favorit yang pastiii gak bakalan mereka lewatkan…. Tapi gak semua penggemar acara ini termasuk type target A lhooo, karena aq juga gemar karena presenternya yang rada gokil… Balik lagi ke hasil penelitian tadi, type target A ni pasti akan rela menghabiskan uang dan waktu untuk meng-kursuskan anknya les modelling, presenter, acting dan sebangsanya lalu di setiap event-event lomba adu bakat untuk anak dan audisi ini-itu mereka selalu mensupport anaknya untuk ikut serta bahkan kalo tu lomba pake banyak-banyakan sms pasti mereka ikhlas membeli pulsa sebanyak-banyaknya demiiii untuk mendukung anaknya sendiri………  Target B, ortu yang ambisius anaknya jadi profesor… Tiap hari anak dijejali berbagai macam kursus yang berbau pengetahuan tapi bukan berarti yang gak mampu mengkursuskan itu gak punya ambisi looh karena beberapa temanq rela banget berjam-jam menyuruh anaknya duduk di meja belajar dengan setumpuk buku-buku pelajaran….. Motifasinya cuma satu, gak mau anak-anaknya hidup susah di kemudian hari….. Sederhana dan demi kebaikan kan??? By the way aq pernah hampiir ajaaah terjerumus pada type target B ini….. Tapi setelah ngobrol dengan my best friend (  mudah-mudahan dia juga menganggapq best friend juga yaaahhh ) yang seorang dosen psikologi salah satu universitas terkenal di kota ini ( aq sengaja gak sebut namanya karena kalo q  sebut beliau-nya yang sangat low profile itu pasti keberatan… temanq ni orangnya sederhana banget siihhh ) aq jadi berubah pikiran dan haluan… UUpss! She had to say : Santai aajjjaaah! Biarkan anakmu menikmati sekolahnya. Jadilah aq termangu-mangu… waah teman-temanq yang masuk dalam kategori B ini yang selalu bilang kalo dalam mendidik anak harus curi start alias one step ahead…. Jadi kalo anak-anak yang laen baru belajar 1+1 anaknya pasti dah diajarin 24+16 …. Bahkan meskipun anak mereka dalam keadaan sakit-pun tetap di-motifasi untuk masuk sekolah dengan alasan ; takut ketinggalan pelajaran…..Yah sepanjang penagamatanq anak-anak mereka memang selalu di deretan terdepan sih di kelas… Tapi aq ndiri kok gak tega yaaah maksain anak dengan cara begitu….. Akhirnya, aq berubah haluan menuju type C…. Type C yang santai dalam mendidik anak, percaya penuh bahwa anaknya mampu mengatasi semua education yang dia terima, selalu membantu anaknya bila sang anak membutuhkan dan tidak membatasi bakat anak hanya karena takut bakat anak memberi pengaruh negatif pada proses belajar mengajarnya di sekolah, tapi type ini juga gak terlalu mengeksploitasi kemampuan anak-anaknya……… Sungguh sulit berada di type ini dan aq sadar kalo aq belum sepenuhnya bisa…. Type D adalah target terakhir dalam klasifikasiq yaitu type ortu ter-cuek… Biasanya karena sama-sama sibuk jadi dah gak sempat lagi memonitor anaknya, biasanya type ini anak-anaknya diserahkan pada pembantu 100%, bahkan pe-er sekolah yang membimbing juga pembantunya!! Bukan berarti semua ortu sibuk tergolong type ini loooh… Karena dari pengamatanq bahkan seorang ibu rumah tangga biasa bisa termasuk type D ini karena jumlah anak-anaknya banyak dan masih kecil-kecil, jadi perhatian mereka sebagian besar tercurah pada yang batita or balita sehingga yang rada gedhe-an yaaa sudah paaasssraaah sama PRT tadi…. Parahnya kadang-kadang bahasa pergaulan  PRT gak selamanya sehat….. Eh ada yang ketinggalan, type E adalah target yang bener-bener terakhir dari semuanya…….. Type yang cintanya pada anak adalah cinta buta alias love is blind. Selalu ngintil kemanapun anak pergi, selalu menuruti kemauan si anak tanpa melihat baik dan buruknya, salah bener anak gak pernah ditegur apalagi dimarahin, pokoke cinta mati duuueeeehhh…… Terlalu melindungi anak dan selalu khawatir si anak gak mampu memilih mana yang benar mana yang salah so mereka ini jadi selalu pengen tau sekecil apapun yang dilakukan anak-anaknya… Wah kalo kebablasan ya gawat karena kalo tu anak dewasa dan dah berkeluarga kelebihan perhatian seperti ini justru akan merusak keharmonisan ekosistem lingkungan di dekitar sang anak… Berabe deehhh…..

Nahhh ini semua hanya penilaian yang subyektif lhooo dan dilihat dari kacamataq semata…. So ya pasttiii laaah banyak kekurangannya dibandingkan kelebihannya……… Jadi, tergantung kita bagaimana menyikapinya. Mungkin instropeksi lebih baik daripada mencela kaaannnn??? Karena anak memang titipan TUHan yang sangat-sangat berharga. Bahkan seorang temanq yang laen mengatakan ; hidupq untuk anakq………. Gimana buuuuu????

My Love

My Love

Warning : Bener loooh jangan sia-siakan anak kita, jangan sampai terjadi adegan kekerasan terhadap buah hati kita walopun mereka nakal karena semuanya pasati bisa diselesaikan dengan cinta bukan dengan kekerasan….. Apalagi sampe kayak storynya Arie Hanggara tempo doeloe…. Mungkin seperti pepatah eyang putriq : hidupi, didik dan tegurlah anakmu dengan cinta agar mereka bisa mengenang kita orang tuanya dengan kenangan indah sepanjang masa…… Piye???

Iklan

4 responses to “Titipan Tuhan

  1. Sekalian commentnya… (mumpung lagi sempat)… Pesanku kamu jangan memaksakan kehendak ya biarkan saja anakmu menjadi apa adanya…….. Mengarahkan boleh, tapi memaksa jangan lahhh yaaawww……. Katakan selalu pada anakmu baby, ” Be your self honey..”

  2. @ mimi
    thks mom……. four your time to comment…. CU

  3. Aku menyukai si filsuf Kahlil Gibran,
    saat ia menuangkan idenya dalam puisi, bahwa “anakmu, bukanlah milikmu. Ia adalah milik kehidupan… Engkaulah busur, dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur….” (Sang Nabi, Kahlil Gibran).
    aku pernah merasa frustrasi, sudah lama berselang, saat anakku masih TK… aku ingat pernah mengajarinya belajar, dengan cara belajarku dulu semasa kecil. pernah mendidiknya, untuk melakukan sesuatunya berdasarkan kebiasaan yang kunikmati sejak lama. dan hasilnya… kami sama2 kelelahan karena frustrasi. ia frustrasi, karena caranya tidak kuhargai. aku frustrasi, karena aku merasa tidak berhasil menjadikannya seperti miniatur kecilku.
    lalu aku menyadari : buat apa ia harus meniruku? buat apa aku memaksanya menjadi seperti pribadiku?
    separo gen nya adalah gen bapaknya, yang jauh berbeda dari gen ku. separo pribadinya adalah sisipan dari lingkungannya, teman-temannya, dan bukan dari gen kami berdua sebagai orang tuanya.
    Peranku, bukankah hanya sebagai ibunya, bukan pemiliknya? ia memiliki kehidupan sendiri, yang tidak sepenuhnya pengaruhku. mengapa harus kutuntun dia menjadi seperti aku?
    setelah periode itu, aku belajar untuk lebih banyak memberikan kebebasan padanya. mempercayai kemampuannya menyelesaikan perkara, dengan caranya sendiri. aku tidak perlu buang enerjiku dengan percuma, karena ia lupa membawa kunci rumah (alangkah bedanya denganku dulu waktu kecil yang serba menyiapkan hal-hal penting dengan tertib..). nyatanya ia toh tetap bisa masuk rumah (gunanya kunci kan memang untuk bisa masuk ke rumah). meski dengan cara memanjat dinding pembatas dengan tetangga. apa salahnya?
    aku sering merenung.. aku ini ingin apa ya, untuk anakku? ingin dia pinter, sukses, kaya, masuk surga, atau apa?
    beberapa tahun terakhir ini, aku temui jawabannya : aku ingin ia bahagia. tdak perlu kaya untuk kuakui sebagai anakku. tidak perlu harus menjadi direktur terkenal untuk membahagiakanku. aku bahagia jika ia bisa berbahagia. itulah cita-citaku.
    beberapa minggu lalu, saat kami sedang berbincang berdua, pernah kutanya padanya: kalau seandainya waktu bisa berputar kembali, dan kita diberi kesempatan untuk mengulangi lagi peristiwa yang kita anggap bisa diperbaiki, kau akan memperbaiki masa yang mana?
    Dan ia menjawab…
    aku merasa tidak ada yang perlu diperbaiki dalam hidupku. aku senang masaku sekarang, karena aku bisa mengurusi diriku sendiri, karena aku bisa menjaga diriku sendiri.
    lalu aku mengatakan, kalau aku ingin kembali memperbaiki masa-masa saat dia kecil dulu, saat aku begitu ingin menjadikannya bisa ‘sempurna’ di tengah kesibukanku me-manage rumahku tanpa ada yang membantu. aku ingin lebih bisa menikmati masa-masa itu tanpa harus merasa stres, terbebani, bertanggung jawab untuk menjadikan dia sebagai anak yang tanpa cacat (sehat, pintar, bisa dibanggakan, dsb).
    Ya Tuhanku… aku terhenyak mendengar jawabannya : Menurutku, tidak semua masa perlu diperbaiki.
    Mengapa? tuntutku penuh tanya.
    karena kita bisa belajar dari pengalaman, katanya (Ya TUhanku,… mengapa dia bisa se wisdom itu?? alangkah bedanya denganku… Ya Tuhan..)
    Terus menurutmu, apa yang bisa mama pelajari dari masa-masa itu? tanyaku lagi. menuntut.
    Agar mama bisa belajar bersabar… jawabnya.
    keok aku. mati aku…
    Aku banyak belajar darinya, Gandhi kecilku, bahwa aku tidak perlu harus menuntunnya tiap saat. ia bisa menuntutn dirinya sendiri. menuju kehidupannya sendiri.
    Aku hanya perlu mencintainya dengan tulus dan tanpa pamrih. Itu saja.
    (dengan segenap cinta untuk anakku.. semoga bisa menjadi tulisan yang menghibur untuk mbak ika.)

  4. @ nur
    sungguh mom, aq berkaca-kaca saat membaca tulisan ibu…….. apa yang ibu tuliskan jauh lebih indah dari cukilan puisi Kahlil Gibran… Lalu aq teringat alm.bapak yang juga punya pendapat sama dengan ibu… Beliau selalu bilang ; saya tidak pernah menuntut apa-apa dari kamu, asalkan kamu bahagia bapak juga bahagia…….. Dan memang hingga akhir hayatnya beliau tak pernah meminta apapun dariku… Sehingga bagiq beliau adalah matahari yang hanya memberi tak harap kembali ( kayak cukilan lagu Kasih Ibu )… Toooeeenggggg!!!! Aq sejenak gak bisa berkata-kata… Instropeksi diri adalah hal tersulit bagi setiap manusia walopun sebenarnya kalo mau siapapun pasti bisa melakukannya dengan mudah…. So do I… Aq bertekad akan memperbaiki bentuk cintaq pada anakqu, dengan membiarkannya meraih sesuatu dengan caranya sendiri ( mdh-mdhan dia gak akan salah jalan )… Thanks mom…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s